Kisah Tragis Kematian Fientje De Feniks, Pelacur Papan Atas di Batavia

HALLONEWS.COM – Batavia, tahun 1893: Kota pelabuhan itu panas dan pengap, dipenuhi bau amis air kanal dan keringat manusia. Di sebuah kamar sempit dekat Pasar Baru, lahirlah seorang bayi perempuan tanpa nama, tanpa silsilah.

Kulitnya cerah kecoklatan, hidungnya mancung, matanya bulat polos terlalu Eropa untuk disebut pribumi, terlalu pribumi untuk diterima Eropa. Ia lahir di antara dua dunia, tapi tak dimiliki keduanya.

Tak ada ayah yang menimang. Tak ada ibu yang menggendong. Ia datang ke dunia seperti rahasia yang tak pernah diminta untuk diungkap.

Advertisements
Banner Hardee new

Orang-orang kampung hanya berbisik, seperti meramal masa depan:
“Anak ini, kelak akan jadi gadis paling dicari di Batavia.” Ramalan itu bukan harapan. Itu kutukan.

Fientje, Sang Fenomena di Kota Dosa

Menjelang usia sembilan belas, nama Fientje de Feniks menggema di seluruh Batavia. Ia bukan sekadar pelacur, ia legenda. Di gang sempit rumah bordil Oemar Ompong dekat Stasiun Pasar Senen, namanya disembah para lelaki yang haus kuasa dan hiburan.

Opsir Belanda, saudagar Arab, pejabat kolonial semua berlomba membeli satu malam bersamanya. Tarifnya tak masuk akal, tapi harga tak berarti bagi para penguasa yang terbiasa menaklukkan segalanya, termasuk tubuh dan harga diri perempuan.

“Kalau kau belum pernah tidur dengan Fientje, kau belum pantas disebut pria,” kata mereka dengan nada pongah.

Namun di balik tawa genit dan kebaya sutra, ada jiwa yang perlahan lapuk. Fientje tahu, tak satu pun datang karena cinta. Ia pun sudah lama berhenti mencintai dirinya sendiri.

Malam Terakhir: 17 Mei 1912

Hujan turun deras malam itu. Angin berdesing membawa hawa dingin yang menusuk. Dari balik dinding bambu rumah bordil, Rosna, sahabat sekamarnya, terbangun oleh suara ribut dari teriakan, isak tangis, dan dentuman meja.

Fientje tak sendiri. Di hadapannya berdiri Brinkman, pria tinggi besar anggota Societeit Concordia, klub elite orang Belanda yang merasa Batavia ada di bawah sepatu mereka.

Dengan nada mabuk kekuasaan, Brinkman menggeram:

“Kau tak boleh tidur dengan lelaki lain lagi!”

Suara Fientje gemetar, tapi matanya menantang.

“Lebih baik aku jadi pelacur selamanya… daripada jadi peliharaanmu.”

Kalimat itu menampar harga diri seorang kulit putih yang terbiasa disembah. Amarahnya meledak. Rosna bersembunyi, menggigil di sudut kamar.

Jeritan yang Ditelan Hujan

Brinkman maju selangkah. Kedua tangannya meraih leher Fientje. Tak ada kata. Tak ada jeda. Hanya napas yang tercekat, lalu sepi. Fientje berusaha meronta, tapi kekuatan itu terlalu besar.

Matanya membelalak, tangannya mencakar udara, mencari hidup yang perlahan meninggalkan tubuhnya. Dalam satu hembusan napas terakhir, dunia yang menelannya pun ikut padam.

Rosna menutup mulutnya, menahan jerit. Dan hujan di luar terus turun, seolah langit pun ikut menyembunyikan dosa malam itu.

Mayat di Kali Baru

Pagi berikutnya, warga geger. Sebuah karung besar tersangkut di pintu air Kali Baru. Saat dibuka, bau busuk menampar udara. Di dalamnya, tubuh perempuan muda dengan wajah rusak dan rambut bercampur lumpur.

Kebaya sutranya masih melekat. Tubuh yang dulu dielu-elukan kini tak ubahnya sampah kota. Orang-orang bergidik.

“Mungkin wanita Tionghoa yang hilang?”

“Mungkin korban santet?”

Namun polisi segera memastikan:

“Itu… Fientje de Feniks.”

Media kolonial berpesta. Het Nieuws van den Dag, Soerabaische Handelsblad, dan semua media kulit putih di Batavia, berebut menulis dengan judul paling sensasional.

Kematian Fientje viral, dijadikan komoditas kisah tragis yang dikemas jadi hiburan.

Keadilan yang Berjalan Timpang

Komisaris Ruempol turun tangan. Ia tahu siapa Brinkman. Orang Belanda. Kulit putih. Tak tersentuh hukum. Tapi kematian Fientje terlalu mencolok untuk dihapus begitu saja.

Oemar Ompong, si muncikari, akhirnya buka mulut. Dengan suara bergetar ia menyebut nama Brinkman sebagai pembunuh. Namun siapa berani menyeret bangsawan ke meja hijau?

Beberapa hari kemudian, tiga kuli ditangkap yaitu Pak Sulin dan dua kawannya. Mereka mengaku hanya dibayar beberapa gulden untuk membuang karung berisi jasad Fientje ke sungai. Uang yang kini terasa seperti racun.

Pengadilan yang Menggemparkan

Brinkman tak tinggal diam. Ia menyewa Hoorweg, pengacara paling lihai di Hindia. Ia mencoba menyuap jaksa tiga ribu gulden untuk menutup kasus, dua ribu lagi untuk membungkam saksi.

Ia tertawa saat sidang dimulai. Tawa yang sombong, yakin bahwa warna kulit lebih kuat daripada keadilan. Namun hari itu, tawa itu padam.

Rosna melangkah maju. Tubuhnya gemetar, suaranya lirih, tapi setiap kata yang keluar adalah peluru.

“Tuan hakim… saya melihat sendiri. Laki-laki itulah yang membunuh Fientje.”

Ruangan mendadak hening. Tak ada suara, tak ada ejekan. Kali ini, tak ada kuasa yang bisa menyelamatkan Brinkman dari kenyataan.

Kematian Seorang Bangsawan

Vonis dijatuhkan, Brinkman diputuskan bersalah, dijatuhi hukuman mati. Hari-hari di penjara membuat Brinkman gila. Ia menjerit, menangis, meronta pada tembok batu yang dingin.

Ia, yang dulu merasa dunia di bawah telapak kakinya, kini tak lebih dari bayangan yang menunggu ajal. Tak tahan menunggu regu eksekusi, Brinkman memilih mati dengan caranya sendiri.

Ia menggantung diri di dalam sel, mati dalam keheningan, tanpa upacara, tanpa kehormatan.

“Dia mati demi kesombongannya sendiri,” tulis wartawan Rosihan Anwar.

Warisan Seorang Perempuan Terlupakan

Tragedi Fientje mengguncang Batavia. Ia menelanjangi wajah asli kekuasaan kolonial; rasisme, uang, dan arogansi yang membungkus kejahatan.

Surat kabar terus menulis. Publik terobsesi. Sensasi lebih menarik daripada kebenaran. Namun di balik sensasi itu, lahirlah jejak abadi:

  • Tan Boen Kim menulis novel Fientje de Feniks (1915).
  • Tjiong Koen Bie membuat versinya sendiri.
  • Peter van Zonneveld mengabadikannya dalam karya modern.
  • Pramoedya Ananta Toer menyelipkan ruhnya dalam Rumah Kaca.

Fientje bukan lagi sekadar nama. Ia simbol. Simbol perempuan yang diludahi dunia, tapi meninggalkan jejak yang lebih abadi daripada pelakunya.

Cahaya Abadi di Kali Baru

Lebih dari seabad telah berlalu. Namun kisah Fientje de Feniks masih berdenyut dalam sejarah Batavia sebagai peringatan bahwa keadilan hanya hidup bila ada yang berani bersuara.

Masih banyak “Fientje” di dunia ini yaitu perempuan yang dijual, dicaci, dibungkam. Barangkali, dunia baru benar-benar mendengarkan mereka… hanya setelah mereka mati. Hidup yang berarti, dan mati lebih berharga lagi. teguh setiawan

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *