Begini Curhatan Warga Kampung Bahari Alasan Jual Narkoba

HALLONEWS.COM– Di tengah gencarnya pemberantasan narkoba, suara getir datang dari jantung Kampung Bahari, Jakarta Utara.

Seorang warga yang menyebut dirinya Kosim (45) nama samaran mengungkapkan kenyataan pahit kehidupan warga yang tersisih dari perhatian negara.

“Kebanyakan warga di sini juga tidak mau, Mas, jualan barang itu (narkoba). Tapi bagaimana lagi, ini sudah jadi cara bertahan hidup,” katanya kepada Hallonews pada Selasa (11/11/2025).

Advertisements
Banner Hardee new

Kosim tak menutup-nutupi alasannya. Anak dan istri menunggu di rumah, sementara pekerjaan sulit dicari dan bantuan pemerintah tak kunjung datang.

Ia menegaskan, bukan niat untuk melawan hukum, tapi realitas hidup yang memaksa mereka menyeberang ke sisi gelap demi dapur tetap berasap.

“Kami punya keluarga, Mas. Anak perlu makan, sekolah, istri juga butuh biaya,” ujarnya

“Cari kerjaan saja susah. Pemerintah pun tidak pernah merangkul kami,” imbuhnya.

Ia bahkan mengaku tak pernah sekalipun mendapat bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bansos lain yang dijanjikan pemerintah.

“Saya pribadi tidak pernah dapat bantuan apa-apa dari pemerintah,” ucapnya.

Pernyataan Kosim seperti menampar wajah kebijakan sosial pemerintah. Di tengah jargon Indonesia Bersih Narkoba, masih ada rakyat kecil yang merasa tidak punya pilihan selain melanggar hukum untuk sekadar hidup.

“Jadi kalau kami tidak seperti ini, lantas bagaimana nasib keluarga kami?,”

“Biarpun keadaan kami seperti ini, kami berharap anak-anak kami tidak seperti kami,” tambahnya.

Sebelumnya, kawasan padat penduduk ini diserbu tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bareskrim Mabes Polri karena disinyalir menjadi sarang pengguna dan pengedar narkoba.

Meskipun warga setempat sempat melakukan perlawanan dengan melempar batu, operasi tetap berlangsung secara humanis, menegaskan bahwa penegakan hukum tetap mengedepankan prosedur.

“Kami lakukan penindakan di beberapa titik rawan peredaran narkoba di Kampung Bahari,” ujar Brigjen Roy Hardi Siahaan, Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN RI dilokasi Rabu (5/11/2025).

Menurutnya, dua titik penggerebekan yang disisir adalah rumah kos berwarna oranye dan lapak tenda di samping rel kereta api, yang menjadi jalur transaksi sekaligus lokasi penggunaan narkoba.

Sebanyak 18 orang diamankan dalam operasi tersebut. Mereka kini menjalani pemeriksaan intensif untuk menentukan peran masing-masing, apakah sekadar pengguna, pengedar, atau bandar.

Selain itu, narkotika diduga sabu dengan total berat lebih dari 100 gram, 50 butir ekstasi bergambar Transformer dan Louis Vuitton (LV), 30 bungkus ganja (berat total 38,84 gram), Uang tunai Rp7,2 juta, Puluhan alat hisap (bong), berbagai timbangan digital, serta sejumlah telepon genggam.

“Selain itu, di beberapa lapak sekitar rel ditemukan berbagai peralatan pendukung seperti plastik klip, sedotan, timbangan, dan uang tunai yang diduga hasil transaksi,” jelasnya.

Brigjen Roy mengungkap modus nekat yang digunakan para pelaku yakni pembeli diajak masuk, lalu diminta mencoba barang langsung dari bong yang sudah disiapkan.

“Langkah ini memastikan siapa yang benar-benar serius membeli,” kata dia.

Ia menuturkan, dari tangan para pelaku, BNN menyita sabu, pil ekstasi, alat isap (bong), dan sejumlah barang bukti lainnya.

“Saat ini kami tengah menelusuri jaringan besar di balik aktivitas narkoba ini. Analisis kasus ini sedang dikembangkan untuk memburu beberapa target dan profil bandar besarnya,” pungkasnya. (ALS)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *