Apakah Winter Season Bitcoin Akan Datang?

HALLONEWS.COM – Pasar aset kripto kembali menghadapi tekanan signifikan setelah harga Bitcoin (BTC) turun dan menembus level psikologis USD100.000 dan bergerak di kisaran USD94.000–USD98.000.

Koreksi dalam ini terjadi di tengah berakhirnya shutdown Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berlangsung selama 43 hari, terpanjang dalam sejarah negara tersebut. Presiden Donald Trump akhirnya menandatangani rancangan anggaran yang memulihkan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026.

Meski kembalinya operasional pemerintah memberikan harapan baru, pasar ternyata tidak memberikan respons pemulihan.

Advertisements
Banner Hardee new

Aktifnya kembali lembaga regulator penting seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), agenda seperti persetujuan ETF kripto dan regulasi stablecoin seharusnya dapat bergerak maju. Namun investor tampaknya masih ragu untuk masuk kembali ke pasar karena ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) masih membayangi.

Shutdown yang berkepanjangan juga menyebabkan hilangnya sejumlah data ekonomi penting, termasuk laporan CPI dan nonfarm payrolls yang seharusnya dirilis pada November 2025.

Penundaan data terbaru membuat pelaku pasar kehilangan panduan dalam membaca kondisi ekonomi aktual, yang dampaknya akan mempersulit para ekonom dan analis pasar keuangan dalam memberikan outlook ekonomi bagi para pelaku pasar.

Kebijakan suku bunga The Fed adalah faktor terbesar yang menggerakkan pasar di seluruh dunia. Selama belum ada kejelasan mengenai arah kebijakan moneter Amerika maka volatilitas akan tetap tinggi karena investor cenderung menunggu arah yang lebih pasti. Adapun harapan pemangkasan suku bunga pada Desember yang sebelumnya mencapai 90% kini turun drastis ke level 55%. Kondisi ini mendorong pasar global memasuki mode risk-off yang terlihat dari penurunan indeks saham Amerika seperti Nasdaq, Dow Jones, dan S&P 500 secara serentak, bersamaan dengan pelemahan Bitcoin.

Selain tekanan eksternal, pasar juga terkena dampak dari peningkatan penjualan oleh kelompok pemegang jangka panjang (long-term holders/LTH). Data Glassnode mencatat bahwa dalam satu bulan terakhir, kelompok ini telah melepas sekitar 815.000 BTC, menjadikannya salah satu fase distribusi terbesar sejak Januari 2024.

Selain itu, laporan CryptoQuant juga menambahkan bahwa lemahnya permintaan spot, arus keluar bersih dari ETF Bitcoin, serta negatifnya Coinbase premium memperburuk situasi pasar crypto secara keseluruhan.

Kombinasi antara ketidakpastian makro, hilangnya data ekonomi penting, memudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga, pelemahan permintaan pasar spot, serta distribusi besar dari institusi global membuat prospek pasar crypto semakin tertekan dalam beberapa minggu ke depan.

Secara teknikal, dari time frame mingguan, Yes Invest melihat bahwa bitcoin secara struktur masih bergerak di dalam bullish trend, akan tetap secara price action saat ini masih membentuk secondary reaction untuk menguji area support penentu di USD90.000 dengan indikator MACD yang juga menunjukkan pelemahan.

Selama support USD90.000 tersebut masih dipertahankan maka skenario winter season bitcoin berpotensi gagal dan bitcoin berpeluang untuk melanjutkan pergerakan naiknya ke level USD130.000 – USD160.000. (Yesaya Christofer / CEO Yes Invest)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *