HALLONEWS.COM – Tekanan darah tinggi (hipertensi) selama ini dikenal sebagai pemicu penyakit jantung dan stroke. Namun, para pakar menegaskan bahwa efek lain yang tak kalah penting namun jarang dibahas ialah disfungsi ereksi.
Kondisi disfungsi ereksi ini terjadi karena hipertensi merusak sistem pembuluh darah dan saraf yang sangat berperan dalam mekanisme ereksi.
Dr. Michael Eisenberg, urolog dari Stanford University, menjelaskan bahwa pembuluh darah di penis merupakan yang paling sensitif terhadap tekanan darah tinggi.
“Ketika tekanan darah terus-menerus tinggi, dinding darah mengeras dan alirannya melemah. Ereksi membutuhkan aliran darah yang sehat. Jadi ketika pembuluh darah rusak, fungsi seksual pasti terdampak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan kardiolog asal Inggris, Prof. Graham Jackson, yang juga Ketua Yayasan Sexual Advice Association.
Ia menyebut disfungsi ereksi bahkan dapat menjadi indikator awal kerusakan pembuluh darah.
“Disfungsi ereksi kerap muncul tiga hingga lima tahun sebelum seseorang mengalami penyakit jantung. Jika pria mengalami disfungsi ereksi dan memiliki tekanan darah tinggi, itu adalah tanda peringatan serius,” katanya.
Selain itu, beberapa obat hipertensi memang dapat memengaruhi libido atau kekuatan ereksi. Namun, pakar farmakologi klinis dari University of Toronto, Dr. Khalid Al-Hassan, menekankan bahwa hal tersebut bukan alasan untuk menghentikan terapi tekanan darah.
“Jangan berhenti minum obat hanya karena muncul disfungsi ereksi. Banyak alternatif obat antihipertensi yang aman bagi fungsi seksual, tinggal dikonsultasikan ke dokter,” tegasnya.
Dari sisi mekanisme, hipertensi menurunkan produksi nitric oxide (NO), senyawa penting yang membantu otot pembuluh darah mengendur agar aliran darah meningkat.
“Tanpa nitric oxide yang cukup, ereksi akan sulit dicapai dan dipertahankan,” jelas Dr. Akira Tanaka, spesialis andrologi asal Jepang.
Kabar baiknya, kondisi ini dapat diatasi. Para ahli menyepakati bahwa menurunkan tekanan darah melalui gaya hidup sehat adalah langkah pertama.
Mengurangi garam, berhenti merokok, olahraga rutin, dan menjaga berat badan terbukti memperbaiki fungsi ereksi. Selain itu, obat-obatan PDE5 inhibitor seperti sildenafil dapat digunakan oleh penderita hipertensi tertentu, asalkan tidak sedang mengonsumsi obat nitrat.
Para pakar sepakat bahwa hubungan hipertensi dan disfungsi ereksi adalah masalah medis — bukan moral atau psikologis belaka. Jika DE muncul bersamaan dengan tekanan darah tinggi, itu bisa menjadi alarm penting bahwa kesehatan jantung dan pembuluh darah perlu diperiksa.
Jadi waspadai tekanan darah tinggi bukan hanya untuk mencegah stroke, tapi juga menjaga kualitas hidup dan fungsi seksual. Jika gejala muncul, periksakan diri sedini mungkin. (W-2/dari berbagai sumber)







