HALLONEWS.COM – Dalam beberapa waktu terakhir, pasar kripto dipenuhi optimisme berlebih bahwa The Fed (Bank Sentral AS) akan menurunkan suku bunga pada FOMC mendatang. Harapan ini kemudian berkembang menjadi keyakinan bahwa pasar akan segera memasuki fase bullish.
Namun, dinamika tersebut menunjukkan bagaimana investor sering kali terjebak pada bias kognitif, khususnya expectation bias dan confirmation bias yang mengaburkan pemahaman nyata mengenai kebijakan moneter dan kondisi makroekonomi.
Bias kognitif merupakan kecenderungan sistematis ketika manusia memproses informasi secara tidak rasional. Dalam konteks pasar keuangan, bias ini muncul saat investor menginterpretasikan data pasar sesuai keinginan atau prasangka mereka, bukan berdasarkan fakta objektif.
Expectation bias terlihat ketika investor memaksakan keyakinan bahwa “The Fed pasti akan menurunkan bunga”, meskipun data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed belum mendukung kesimpulan tersebut. Keinginan untuk melihat asset kripto yang dipegangnya naik sering kali membuat investor mengabaikan data yang sesungguhnya terjadi.
Setelah keyakinan awal itu terbentuk, muncul confirmation bias, yaitu kecenderungan untuk hanya mencari informasi yang mendukung harapan tersebut (kenaikan pasar kripto).
Investor kemudian lebih sering mengonsumsi konten dari influencer atau analis yang sejalan dengan pandangan mereka, dan mengabaikan data yang bertentangan. Selain itu, algoritma media sosial memperkuat pola ini dengan menampilkan konten serupa secara berulang, sehingga investor semakin yakin pada narasi yang belum tentu benar.
Salah tafsir mengenai isu moneter, seperti klaim bahwa The Fed telah “diam-diam melakukan quantitative easing (QE)” melalui aktivitas repo (repurchase agreement), merupakan contoh nyata bagaimana bias bekerja.
Padahal, operasi repo hanya merupakan pinjaman likuiditas jangka sangat pendek yang tidak menambah jumlah uang baru dalam perekonomian, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai QE.
Demikian pula, pernyataan tokoh seperti Ray Dalio mengenai penghentian quantitative tightening (QT) sering diinterpretasikan keliru sebagai sinyal bahwa bank sentral telah memulai pelonggaran moneter, padahal neraca The Fed belum menunjukkan ekspansi yang menggambarkan QE sebenarnya.
Adapun keyakinan bahwa pemangkasan suku bunga adalah sesuatu yang pasti juga tidak sesuai dengan pernyataan The Fed. Ketua The Fed sendiri berkali-kali menekankan bahwa seluruh keputusan berbasis data ekonomi terbaru, bukan perkiraan pasar.
Probabilitas penurunan suku bunga pun masih berubah-ubah, mencerminkan ketidakpastian, bukan kepastian. Meski demikian, sebagian investor kripto tetap berpegang pada narasi bullish karena bias ekspektasi yang sudah terbentuk.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor yang tidak memiliki pemahaman mendalam mengenai makroekonomi mudah terseret oleh narasi singkat yang beredar di media sosial. Ketika pemahaman tersebut dibangun oleh asumsi, bukan data, investor berpotensi mengambil keputusan yang tidak rasional dan berisiko.
Untuk membaca arah kebijakan moneter secara tepat, investor perlu mengacu pada indikator objektif seperti data inflasi, kondisi tenaga kerja, proyeksi ekonomi Federal Reserve (SEP), notulen FOMC, dan perubahan neraca bank sentral.
Pendekatan berbasis data akan membantu investor memahami dinamika pasar secara lebih akurat dibandingkan mengandalkan narasi populer yang sering kali menyesatkan.
Pada akhirnya, memahami bias ekspektasi dan bias konfirmasi menjadi penting agar investor tidak terjebak dalam ilusi kebijakan moneter yang tidak sesuai kenyataan. Dengan mengedepankan analisis berbasis data daripada narasi emosional, investor dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan terukur, khususnya dalam ekosistem berisiko tinggi seperti pasar kripto. (Yesaya Christofer/CEO Yes Invest)







