Menelisik Prospek Harga Emas di Tahun 2026, Antara Kebijakan The Fed dan Reli Safe Haven Global

HALLONEWS.COM – Di penghujung tahun 2025 dan menjelang masuk tahun 2026 banyak investor yang menatap emas dengan optimisme yang jarang terlihat dalam satu dekade terakhir.

Hal ini setelah harga emas mengalami reli agresif pada 2024 hingga 2025 ini. Maka jangan heran kalau sebagian besar analis global menilai momentum bullish logam mulia ini belum akan berhenti di awal tahun depan.

Penyebabnya sederhana, karena ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat oleh Federal Reserve (The Fed), ditambah permintaan fisik dan institusional yang terus meningkat.

Advertisements
Banner Hardee new

Sejak 2023, bank sentral di berbagai negara—terutama di Asia—secara konsisten menambah cadangan emas sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS.

Momentum tersebut makin kuat pada 2025, mendorong harga emas mendekati rekor baru. Ketika memasuki 2026, pasar menghadapi satu pertanyaan besar akankah The Fed kembali menurunkan suku bunganya?

Menurut survei analis internasional, tahun 2026 kemungkinan menjadi awal siklus rate cut The Fed.

Goldman Sachs, misalnya, memproyeksikan penurunan suku bunga secara bertahap mulai pertengahan hingga akhir 2026, didorong oleh pelemahan ekonomi AS dan tekanan politik untuk meredam biaya pinjaman.

Jika skenario ini terjadi, yield obligasi AS akan turun, dolar melemah, dan harga emas berpotensi melonjak ke rentang US$4.000–US$5.000 per troy ounce.

Morgan Stanley bahkan menilai skenario bullish dapat lebih ekstrem apabila ketidakpastian geopolitik berlanjut. Mereka menempatkan target agresif sekitar US$4.500 per ounce dengan asumsi permintaan investor institusi dan ETF emas terus meningkat.

Sementara Deutsche Bank juga menaikkan estimasi rata-rata 2026, menggarisbawahi kombinasi pelemahan dolar dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral.

Namun, pasar tetap dihadapkan pada risiko penting: penundaan pemangkasan suku bunga. Bila inflasi AS kembali naik atau The Fed mengambil sikap lebih hawkish, emas bisa tersendat. Yield yang tinggi akan menahan minat terhadap aset tanpa imbal hasil ini, sehingga harga mungkin bergerak mendatar atau terkoreksi.

Meski begitu, skenario paling pesimistis pun tidak meniadakan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Ketegangan geopolitik, ketidakpastian fiskal AS, dan volatilitas pasar membuat investor global tetap melihat emas sebagai tempat berlindung yang aman. Ini yang membuat sebagian analis menilai harga emas memiliki level yang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

Dengan dinamika tersebut, 2026 tampak menjadi tahun di mana emas tidak hanya mengikuti data ekonomi, tetapi juga mencerminkan psikologi pasar global yang semakin waspada. Jika The Fed benar-benar memasuki fase pelonggaran, emas berpotensi melesat ke rekor baru—menjadikannya salah satu aset yang paling diminati investor di seluruh dunia. Kita tunggu saja. (W-2/berbagai sumber)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *