Penurunan Harga Minyak Global: Surplus Pasokan AS dan Sanksi Rusia Mengemuka

HALLONEWS.COM – Pasar minyak dunia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (19 November 2025), dengan harga kontrak berjangka Brent dan West Texas Intermediate (WTI) merosot hingga 2,14%.

Penurunan ini dipicu oleh data persediaan minyak mentah dan bahan bakar yang lebih tinggi dari ekspektasi di Amerika Serikat, ditambah ketidakpastian dari sanksi terhadap eksportir Rusia.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran surplus pasokan global, yang berpotensi menekan harga lebih lanjut hingga akhir tahun.

Advertisements
Banner Hardee new

Menurut data dari American Petroleum Institute (API), persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 4,45 juta barel untuk pekan yang berakhir 14 November 2025, sementara stok bensin naik 1,55 juta barrel dan distilat 577 ribu barrel.

Laporan resmi dari Administrasi Informasi Energi (EIA) yang dirilis kemudian menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 3,4 juta barel—masih lebih rendah dari proyeksi kenaikan 4,4 juta barel—namun kenaikan stok bahan bakar untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan.

Hal ini menandakan permintaan yang lemah, terutama di tengah peningkatan operasi kilang dan ekspor AS. Pada sesi Rabu pagi di Singapura, Brent berada di US$64,58 per barel (turun 0,5%) dan WTI kontrak Januari di US$60,39 per barel.

Faktor utama di balik penurunan ini adalah persepsi surplus pasokan yang membesar. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus terbesar sepanjang tahun depan, didorong oleh peningkatan produksi OPEC+ dan non-OPEC.

Rusia, sebagai pemasok kunci, menghadapi tekanan tambahan dari sanksi AS terhadap perusahaan minyak Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, yang mulai berlaku 21 November 2025. Sanksi ini berpotensi mengurangi pendapatan ekspor Rusia dan mengganggu aliran minyak mentah ke pasar Asia, seperti India, dengan pembeli Asia menunda pembelian.

Selain itu, serangan Ukraina terhadap pelabuhan Novorossiysk Rusia—yang menangani 2,2 juta barel per hari atau sekitar 2% pasokan global—menyebabkan gangguan sementara, meskipun operasi telah pulih pada akhir pekan.

Sinyal diplomatik AS kepada Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina, termasuk proposal penyerahan wilayah Kyiv, juga mengurangi premi risiko geopolitik, sehingga investor beralih fokus ke fundamental pasar yang lemah.

Analis pasar menyoroti dinamika ini sebagai pendorong utama. Scott Shelton dari TP ICAP Group memprediksi harga minyak akan berakhir di kisaran US$50-an per barel, karena minyak Rusia yang disanksi berpotensi membanjiri pasar.

Janiv Shah dari Rystad Energy menambahkan bahwa tekanan maksimal akan terasa menjelang tenggat sanksi Jumat ini, dengan premi risiko geopolitik yang menurun.

Goldman Sachs memperkirakan penurunan harga hingga 2026 akibat surplus, meskipun Brent bisa rebound di atas US$70 per barel pada 2026-2027 jika produksi Rusia anjlok signifikan.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak menyangkal dampak sanksi terhadap produksi domestik, menegaskan komitmen memenuhi kuota OPEC+ akhir tahun ini atau awal 2026. Pendiri Vanda Insights, Vandana Hari, mencatat bahwa harga minyak kini terperangkap dalam rentang sempit, terjepit antara pandangan surplus pasokan dan kekhawatiran Rusia, dengan pengiriman tanker mencapai 1,4 miliar barel pekan lalu menurut Vortexa Ltd.

Implikasi penurunan ini terasa luas, termasuk bagi Indonesia sebagai importir bersih minyak. Harga yang lebih rendah dapat menekan inflasi domestik dan biaya subsidi BBM, tetapi juga menantang pendapatan ekspor dari sektor hulu.

Secara global, tren ini mencerminkan transisi energi yang lebih lambat dari ekspektasi, dengan permintaan yang tertekan oleh efisiensi kendaraan listrik dan diversifikasi sumber. Para pelaku pasar diimbau memantau data EIA mendatang dan perkembangan sanksi untuk menilai arah selanjutnya.

Tanpa katalis baru seperti pemotongan produksi OPEC+, prospek harga minyak tetap bearish dalam jangka pendek, menguji ketahanan rantai pasok internasional. (Hendeka Putra / Yes Invest Research)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *