HALLONEWS.COM – Longsor akses jalan Batutulis hingga kini masih belum rampung. Akses yang semula menjadi jalur masyarakat beraktifitas, kini hanya bisa dilalui motor.
Atas hal ini, warga Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, mendesak percepatan pembangunan jalan baru akses menuju kawasan Batutulis.
Protes budayawan dan desakan warga terkait pembangunan jalan baru, direspon pemerintah.
Bahkan tokoh masyarakat Bogor Selatan, Jajang Suherman memberi ultimatum, pembangunan akses baru sebagai pengganti Jalan Saleh Danasasmita yang longsor awal Maret 2025 lalu, segera direalisasikan.
“Bukan hanya dampak sosial dan ekonomi bagi sebagian masyarakat di Kecamatan Bogor Selatan, tetapi juga masyarakat desa di Kabupaten Bogor,” katanya.
“Kami alami kerugian. Ini sudah berlangsung lama. Akses transportasi pelajar, pekerja, serta pelaku usaha menjadi terganggu karena jarak tempuh semakin jauh dan waktu perjalanan lebih lama akibat harus memutar ke jalan alternatif,” ujarnya
Akses jalan motor yang ada juga memicu kemacetan di sejumlah titik wilayah Bogor Selatan.
“Ini menghambat pergerakan orang dan barang. Kami bentuk Paguyuban Bogor Selatan, untuk menghimpun aspirasi, meluruskan sejarah dan mendesak percepatan pembangunan jalan kepada wali kota dan DPRD Kota Bogor,” ujarnya.
Terkait kontroversi keberadaan sumur tujuh dan jumlah bungker peninggalan tentara Belanda di area yang akan dibangun jalan, Jajang memberikan penjelasan berdasarkan kesaksian warga setempat yang pernah tinggal dan bekerja di lokasi tersebut.
Informasi yang ia peroleh dari keluarga almarhum Siroj dan warga lainnya bernama Ahmad Sanusi bahwa di area tersebut hanya terdapat sumber mata air yang dialirkan ke kobakan.
Kobak itu dibangun oleh almarhum untuk mandi dan wudhu. Kemudian, terdapat dua bunker, bukan tiga sebagaimana diklaim oleh beberapa pihak.
”Saya lahir, besar, dan pernah menjadi ketua RT, RW, serta LPM di sini. Tidak pernah ada tiga bunker, dan tidak pernah ada sumur tujuh,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, laporan yang disampaikannya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor pada 2008 silam, hanya mencatat dua bunker.
Sementara satu bunker lainnya berada di kawasan Gumati dan tidak terdampak rencana pembangunan jalan baru.
Jajang menegaskan tidak ada literatur sejarah yang menguatkan keberadaan sumur tujuh, baik dalam buku sejarah Bogor, Carita Parahiyangan, maupun sumber historis lainnya.
Tim Ahli Cagar Budaya pun tidak menemukan rujukan pendukung bahwa di area tersebut terdapat sumur tujuh.
Meski demikian, ia menghormati aspirasi budayawan tersebut, namun bukan berarti harus menyingkirkan kepentingan umum.
Jajang sepakat bahwa pembangunan jalan tidak boleh merusak bunker maupun menutup sumber mata air yang ada di area tersebut.
”Kepentingan umum harus diutamakan, cuma jangan sampai merusak bunker dan sumber mata air di sana,” ujarnya.
“Karena saya lihat pemandangan sangat indah langsung menghadap ke Gunung Salak. Ke depan ini bisa jadi destinasi wisata alam, sejarah, dan religi,” katanya.
Jajang meminta DPRD Kota Bogor untuk mengawal dengan serius, agar pembangunan jalan ini berjalan lancar.
Ia juga berharap Pemkot Bogor mengambil langkah yang bijak dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
“Intinya masyarakat ingin cepat kembali normal. Waktu kerja normal kembali, biaya transportasi kembali efisien, dan masyarakat tidak lagi menanggung kerugian sosial maupun ekonomi,” katanya. (yopy)







