HALLONEWS.COM– Sholat Jumat 8 November 2025, di masjid lingkungan SMAN 72, Kelapa Gading, Jakarta Utara mencekam.
Para jamaah berhamburan dan panik keluar sesaat setelah terdengar suara ledakan keras dari samping masjid. Waktu itu, khotib Jumat baru saja selesai memberikan ceramah dan akan dilanjutkan dengan Iqomah.
Jamaah yang ikut Sholat Jumat merupakan siswa, guru dan warga sekitar. Ledakan keras itu mengakibatkan puluhan siswa terluka.
“Semua jamaah bubar dan sejumlah siswa terluka,” kata Toto salah seorang guru yang mengaku berada di belakang imam saat kejadian.
Suasana begitu mencekam. Selain jamaah, ledakan juga menimbulkan kepanikan para siswi dan guru wanita yang berada diluar masjid. Mereka panik hingga berlarian keluar.
Sementara itu beberapa orang berusaha mencari tahu asal suara ledakan. Mereka begitu terkejut saat melihat seorang tergeletak berlumuran darah disamping atau selasar masjid. Di dekatnya terdapat senjata api laras panjang dan pendek. Ada juga benda kecil yang diduga bom.
Berdasarkan data per Sabtu 8 Nobemver 2025, jumlah korban akibat ledakan tersebut sebanyak 96 orang. Dari jumlah tersebut 67 diantaranya telah pulang ke rumah.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan terduga pelaku merupakan siswa sekolah tersebut. Terduga pelaku mengalami luka parah dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. “Terduga pelaku merupakan salah satu siswa di sekolah tersebut,” kata Sigit, Sabtu 8 November 2025.
Menurut Sigit pihaknya terus mendalami terduga pelaku tersebut termasuk latar belakang dan sebagainya. Termasuk media sosial terduga pelaku. “Sejumlah bukti pendukung telah ditemukan. Selain itu, bukti serbuk serta catatan-catatan lainnya turut dikumpulkan,” ungkap Sigit.
Hingga kini, polisi masih melakukan penjagaan terhadap terduga pelaku maupun korban yang tengah menjalani perawatan. “Pasti bukan hanya pelaku, terhhadap korban juga kita jaga,” papar Sigit.
Terduga Pelaku Bawa
7 Bahan Peledak
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menyebut terdapat tujuh peledak yang dibawa oleh terduga pelaku saat kejadian.
Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri AKBP Mayndra Eka Wardhana menyebut hal itu diketahui usai melakukan olah Tempat Kejadian Perkara usai insiden ledakan terjadi. “Benar (ada tujuh peledak)” ujarnya saat dikonfirmasi.
Dia mengatakan dari tujuh peledak yang dibawa terduga pelaku, empat di antaranya meledak di dua lokasi yang berbeda.
Sementara untuk tiga peledak lainnya belum digunakan dan sudah disita oleh petugas untuk proses penyelidikan lebih lanjut. “Yang meledak empat di dua lokasi. Tiga tidak meledak,” ucapnya.
Kendati demikian, Mayndra tidak merincikan lebih jauh ihwal jenis peledak yang membuat 96 orang terluka tersebut.
Pelaku Korban Perundungan di Sekolah
Pelaku terduga korban perundungan menyeruak di lokasi kejadian. Berdasarkan kesaksian Z, terduga pelaku berisial F nekat melakukan pengeboman lantaran dirinya sering menjadi korban perundungan di sekolah. Namun Z tidak mengetahui secara pasti perundungan terhadap F.
Dugaan pelaku adalah korban perundungan ini menyeruak di lokasi. Hal itu juga disampaikan oleh salah satu siswa berinisial ZA, yang juga berada di lokasi kejadian saat ledakan berlangsung.
ZA menjelaskan kronologi saat terjadinya ledakan, hingga melihat terduga pelaku sudah terkapar di lokasi.
“Pelakunya kelas 12, namanya FN. Katanya dia sempat bikin status tapi saya gak tahu isinya. Posisi dia lagi libur itu harusnya. Dia melakukannya pas salat Jumat dari belakang begitu,” kata Z.
Lebih jauh Z mengatakan terduga pelaku sering menyendiri sejak dirinya kelas 11. “Siswa kelas 12, itu katanya dari kelas 11 dia selalu menyendiri,” kata Z, di lokasi.
Selain itu F suka menggambar dan mengoleksi foto yang berhubungan dengan darah dan bendera Amerika Serikat.
“Sering buat gambar-gambar, foto-foto yang kayak tentang berdarah, teroris, bendera Amerika. Gambar-gambar yang berdarah gitu,” jelasnya.
Kemudian F juga diduga suka menonton aksi tembak-tembakan di film. “Sering nonton tembak-tembakan gitu,” jelasnya.
Z menduga pelaku memang menunggu kesempatan dimana para siswa berkumpul dan ramai. F diduga mengincar pelaku bullying terhadap dirinya.
“Mungkin kesempatan ya cowo-cowonya ramai, lagi salat mungkin dia sengaja pengen membunuh pelaku bully. Dia korban bully di sekolah. Sering dibully sampai mental dia nggak kuat, dia juga selalu sendiri pakai jas putih,” ujar Z.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah, menuturkan pada awak media bahwa terduga pelaku melakukan aksinya tersebut diduga karena terpengaruh konten media sosial bukan karena perundungan yang sebelumnya berita beredar.
Terduga Pelaku Dijaga Ketat
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan terduga pelaku menjalani perawatan. Terduga pelaku disebut juga menjalani operasi di bagian kepala.
“Luka pasti di bagian kepala dan ada luka goresan. Iya menjalani operasi, pada bagian kepala ya,” kata Budi.
Polisi menyebutkan, hingga saat ini petugas masih melakukan penjagaan terhadap terduga pelaku maupun korban yang tengah menjalani perawatan. Pihaknya berharap tak terjadi dampak yang lebih besar.
“Pasti, bukan hanya pelaku, terhadap korban kan juga kita jaga. Karena kan kita berharap tidak terjadi fatalitas yang lebih berat,” ujarnya.
Polda Metro Jaya juga menggeledah rumah siswa terduga pelaku. Penggeledahan ini menjadi bagian dari proses penyelidikan polisi.
“Ada rangkaian yang dilakukan pihak kepolisian, dari sterilisasi, dari pemeriksaan olah TKP, barbuk, patut diduga sehingga melakukan penggeledahan ke salah satu rumah yang diduga merupakan pelaku,” ungkap Budi.
Dia menyebutkan pihaknya mengamankan sejumlah barang yang menunjukkan persesuaian dengan temuan barang bukti di TKP ledakan, yakni lingkungan SMAN 72 Jakarta.
Namun Budi belum membeberkan secara detail terkait barang-barang yang diamankan dari rumah terduga pelaku tersebut.
“Diambil beberapa persesuaian barbuk yang ditemukan, termasuk persesuaian dengan yang ada di rumah, ternyata ada persesuaian dari beberapa alat barbuk tersebut,” ucap Budi.







