Kampung Bahari dan Rio de Janeiro, Dua Wajah Perang Panjang Melawan Narkoba

HALLONEWS.COM – Di bawah langit kelabu Jakarta Utara, Rabu siang 5 November 2025, suara sirine dan langkah pasukan bersenjata dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN) RI memecah kesunyian gang-gang sempit Kampung Bahari.

Ratusan personel dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI), BNN Provinsi DKI Jakarta, dan Sat Brimob Polda Metro Jaya mengepung dua titik rawan peredaran narkotika — rumah kost berwarna oranye dan lapak di tepi rel kereta api.

Dari lokasi itu, petugas mengamankan 18 orang, sebagian besar positif sabu, serta menyita 94 gram sabu dan 50 butir ekstasi.

Advertisements
Banner Hardee new

Operasi gabungan ini yang dipimpin langsung oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN RI, Brigjen Roy Hardi Siahaan untuk menjalankan program Commander Wish Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto untuk memulihkan kawasan rawan narkoba dan memutus mata rantai peredaran gelap yang merusak generasi.

Namun jika dilihat lebih jauh, apa yang terjadi di Kampung Bahari memiliki gema yang hampir serupa dengan peristiwa yang terjadi ribuan kilometer di seberang lautan, tepatnya di Rio de Janeiro, Brasil.

Di kota yang dikenal dengan pantai Copacabana dan musik samba itu, aparat keamanan juga tengah berhadapan dengan persoalan yang sama: jaringan narkotika yang berakar di kawasan padat penduduk.

Pada akhir Oktober 2025, aparat keamanan Rio de Janeiro juga melancarkan operasi besar-besaran di dua kawasan favela: Complexo do Alemão dan Complexo da Penha. Lebih dari 2.500 personel diterjunkan untuk memburu anggota sindikat Comando Vermelho (CV), kelompok kriminal yang menguasai perdagangan narkoba di kota itu selama puluhan tahun.

Operasi itu menewaskan lebih dari 120 orang, termasuk empat polisi, dan disebut sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Brasil modern.

Presiden Luiz Inácio Lula da Silva bahkan menyebutnya “pembantaian” dan memerintahkan penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran HAM.

Walau berbeda skala dan konteks, operasi di Kampung Bahari dan Rio de Janeiro mencerminkan dilema yang sama: bagaimana menegakkan hukum terhadap jaringan narkoba yang telah berakar kuat di lingkungan masyarakat miskin, tanpa menimbulkan luka sosial baru.

Baik di Kampung Bahari maupun di favela Rio, narkotika tumbuh subur di tanah yang sama — kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan lemahnya kontrol sosial.

Di gang-gang sempit dan padat, transaksi narkoba sering terjadi secara terbuka, dijaga oleh “pengintai” atau penjaga jalur. Sementara itu, sebagian warga terpaksa menutup mata, bahkan bergantung pada ekonomi ilegal yang menggerakkan kehidupan harian.

“Operasi penegakan hukum sangat penting, tapi tidak bisa berhenti di situ. Kawasan rawan harus dipulihkan — masyarakatnya diberdayakan, anak-anaknya diselamatkan dari jerat narkoba,” ujar Kepala BNN RI Komjen Suyudi Ario Seto.

Bukan Sekadar Penindakan

Dalam laporan resminya, BNN menyebut operasi di Kampung Bahari sebagai bagian dari “Operasi Gabungan Pemulihan Kawasan Rawan Narkoba.”

Istilah “pemulihan” ini penting — karena menandai pergeseran paradigma dari sekadar razia menjadi program berkelanjutan: pembinaan, rehabilitasi, dan edukasi masyarakat.

Hal yang serupa kini mulai dibicarakan juga di Rio de Janeiro, di mana banyak kalangan menilai strategi militeristik selama puluhan tahun tidak menyelesaikan akar masalah. Pemerintah Brasil tengah mempertimbangkan program favela recovery, yakni upaya sosial-ekonomi untuk menggantikan dominasi kartel dengan kehadiran negara yang lebih manusiawi.

Kampung Bahari dan Rio de Janeiro adalah cermin dua kota yang terjebak dalam perang panjang melawan narkotika.

Keduanya menunjukkan bahwa keberanian aparat perlu diimbangi dengan strategi kemanusiaan. Operasi bersenjata mungkin bisa menumpas jaringan, tapi untuk benar-benar menyembuhkan luka sosial, dibutuhkan waktu, kesabaran, dan kebijakan yang berpihak pada manusia.

Di akhir operasi di Kampung Bahari, Komjen Suyudi Ario Seto menegaskan, “Kita ingin masyarakat bebas dari narkoba, bukan takut pada aparat.”

Kalimat itu seolah menggaung seruan bahwa perjuangan melawan narkotika belum usai, dan kita diingatkan: perang melawan narkoba sejatinya adalah perjuangan untuk memulihkan kemanusiaan. (Wahyu)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *