HALLONEWS.COM – Populasi beruang di Jepang meningkat drastis setahun terakhir. Peningkatan habitat ini, membuat nyawa manusia terancam.
Setidaknya dengan meningkatnya populasi ini, sudah banyak warga Jepang yang terluka oleh serangan hewan ini. Bahkan ada warga yang kehilangan nyawanya.
Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar bidang Genetika dan Pemuliaan Ternak
Fakultas Peternakan IPB University mengatakan, di era tahun 1980-an, populasi beruang di Jepang menurun drastis, bahkan dibeberapa wilayah, statusnya sudah terancam punah.
Di pulau Kyushu, beruang terakhir kali terlihat di tahun 1987. Namun dalam kurun waktu enam bulan terakhir, berbagai media massa marak memberitakan semakin banyak warga Jepang yang meninggal dunia akibat serangan beruang.
Tragedi ini menunjukkan bahwa, status populasi beruang di Jepang semakin meningkat tajam.
Di tengah peningkatan populasi ini, beruang melakukan ekspansi wilayah jelajahnya untuk mencari makan, termasuk memasuki wilayah permukiman penduduk.
Menurut Prof Ronny, menurunnya populasi penduduk di wilayah perdesaan Jepang, membuat beruang semakin sering berinteraksi dengan manusia.
“Beruang tertarik masuk ke permukiman karena kekurangan makanan. Tidak jarang mereka menyerang manusia karena menganggapnya sebagai ancaman. Keberanian beruang masuk ke permukiman ini juga tidak terlepas dari penduduk Jepang yang semakin menua,” kata Prof Ronny melalui rilisnya yang diterima wartawan Senin 10 November 2025.
Berdasarkan data, dalam 12 bulan terakhir, pemerintah Jepang menyebutkan, telah terjadi 219 serangan beruang yang menyebabkan luka dan korban jiwa.
Pihak berwenang Jepang menyebutkan, sekitar 44 ribu ekor beruang telah menganggap manusia sebagai mangsa. Bobot beruang hitam mencapai 140 Kg.
“Pemerintah Jepang kini hadapi dilema. Menjaga agar, beruang tidak masuk ke wilayah permukiman dan menyerang manusia, tapi di sisi lain, memastikan populasinya tetap lestari. Pemerintah Jepang, lalu mengambil langkah darurat dengan merekrut lebih banyak pemburu,” tegasnya.
Serangan beruang di Jepang yang meningkat tajam, tidak terlepas dari menciutnya habitat beruang, kelangkaan makanan, dan perubahan iklim.
Prof Ronny menegaskan, tidak dapat dipungkiri, perluasan wilayah permukiman dan pembangunan infrastruktur telah mengganggu rute migrasi dan juga wilayah pencarian makanan beruang.
Fragmentasi habitat perlu dipahami, dalam mencari solusi konflik beruang dengan manusia. Di samping itu, perubahan iklim membuat suhu menjadi lebih hangat.
“Kondisi ini mengubah pola hibernasi dan ketersediaan makanan, serta membuat beruang lebih aktif dan perilakunya semakin sulit diprediksi,” ujarnya.
Prof Ronny mengusulkan penggunaan teknologi dalam menyelesaikan masalah konflik antara beruang dan manusia.
“Perlu pembuatan sistem peringatan dini dan pemantauan populasi beruang dengan menggunakan teknologi terkini, seperti GPS dan drone,” usul Prof Ronny.
Selain itu, diperlukan juga restorasi habitat beruang dan pembangunan wilayah penyangga, agar beruang memiliki ruang gerak dan makanan yang cukup sehingga tidak masuk ke wilayah permukiman.
Selain itu, lakukan edukasi dan membangun kesiapsiagaan masyarakat terkait keselamatan, jika ada beruang yang mendekati permukiman.
“Pembangunan fasilitas fisik seperti pagar listrik, pengusiran beruang dengan bau dan kebisingan yang secara tradisional telah dilakukan penduduk Jepang, tentunya merupakan bagian dari solusi secara keseluruhan,” katanya.
Mengingat beruang merupakan hewan yang masuk dalam program pelestarian, maka pendekatan non-mematikan seperti memindahkan beruang yang bermasalah ke wilayah lain yang jauh dari permukiman menjadi bagian dari solusi.
“Relokasi harus diprogramkan dengan cermat, karena beruang bisa kembali ke wilayah asalnya atau sebaliknya beruang yang dipindahkan akan membuat masalah diwilayah barunya,” paparnya.
Keberadaan beruang di Jepang sangat vital bagi ekosistem hutan, karena fungsinya dalam penyebaran benih dan penjaga keanekaragaman hayati.
Oleh sebab itu, pelestarian beruang harus dapat menjaga keselamatan manusia dengan tetap menjaga populasinya. (yopy)







